Wednesday, 20 November 2019


Kisah
Pagi ini aku merasa sangat senang, entah apa mimpiku semalam. Aku Dhia mahasiswi fakultas ekonomi disalah satu Universitas yang terkenal didaerahku. Aku termasuk Orang yang beruntung bisa berkuliah disana dengan kondisi ekonomi keluargaku yang sangat rendah.
“Adik.”Suara yang sudah tak asing aku dengar.
Aku menoleh kearah kanan, ternyata itu Kak Dika. Teman sekelasku tapi aku memanggilnya kakak, karena umurnya 2 bulan lebih tua dariku.
“ Ada apa kak, kok tumben pagi – pagi udah disekolah?” aku heran dengan sikapnya yang berubah.
“Gak sih pengen aja datang lebih awal, emang gak boleh?” Canda kak Dika sambil menyubit pipiku hingga merah.
“Aduhh…. Sakit kak.” Aku membulatkan bibir.
Kak Dika kelihatan berbeda hari ini, bukan berbeda dari penampilan. Tapi sikapnya, entah apa yang dia alami kemarin.
“Kak udah jam 7.30 nih yuk masuk kelas.” Ajakku dengan menyeret tangan kak dika.
“Aduh.. dik jangan Tarik – Tarik sakit tau, kamu ini cewek tapi kasar.” Lawan kak Dika.
“eh.. sorry sorry kak, kirain kakak gak merasa kesakitan.”
Begitu seterusnya aku selalu bertengkar dengan Kak Dika. Tapi entah kenapa aku merasa nyaman jika didekatnya. Aku tidak pernah merasa khawatir jika sudah ada kak Dika disampingku.
Besoknya lagi Kak Dika datang lebih awal, entah apa yang dia lakukan disekolah sepagi itu. Semakin lama aku merasa curiga dengan tingkah lakunya yang beda. Aku nekat bertanya kepada kak Dika.
“Kak kok belakangan ini kakak sering datang lebih awal ya?” tanyaku sambil berjalan di lorong menuju kelas.
“pengen aja sih, biar gak terlambat.”alasan kak Dika.
“owh gitu…..” jawabku ragu.
Aku berpikir untuk menyelidiki apa yang dilakukan Kak Dika datang ke sekolah pagi – pagi. Aku merencanakan untuk besok datang ke sekolah lebih pagi lagi.
Pagi itu disaat suasana sekolah sangat sunyi, aku mengendap datang meloncati pagar sekolah. Aku mencari tau dimana Kak Dika berada, karena ditempat parkir sudah ada motor kak Dika. Tapi aku heran darimana kak Dika masuk kalua pintu pagarnya dikunci.
Terdengar suara orang ngorok di sebelah kantin sekolah. Aku mencari tau bunyi apa itu. Aku sempat mengira itu pak satpam, tapi setelah aku pikir gak mungkin pak satpam sampai ketiduran disekolah.
“Haloo permisi…. Siapa disana?”suaraku nyaring memanggil orang yang ngorok tersebut.
Tiba – tiba teleponku berbunyi, dengan cepat aku mematikan panggilan itu, karena aku takut terdengar orang yang sedang ngorok tersebut.
“Siapa disana?” seorang lelaki berteriak, seperti orang ketakutan.
Aku diam karena takut, jika orang tersebut penjahat yang suka membunuh tidak aka nada orang yang bisa membantuku saat itu.
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, aku semakin takut penjahat itu akan membunuhku. Bayangan hitam yang terlihat sangat menyeramkan mendekati tempatku berdiri.
“siapa kamu?” teriaknya
“ma-maaf aku mahasiswi disini.”jawabku ketakutan
“siapa namamu?” tanyanya dengan berdiri begitu dekat di depanku.
“Namaku Dhi- Dhia.”jawabku terbata – bata.
Tiba – tiba lampu menyala, dan aku terkejut penjahat tadi itu adalah Kak Dika. Hatiku lega karna ada Kak Dika yang akan melindungiku disana.
“Kak Dika.” Aku teriak mendekatinya lalu memeluknya.
“iya dik kenapa, kok kamu nangis?” Kak Dika memelukku dengan hangat sambil membelai rambutku.
“Tadi ada bayangan hitam kak, dia didepanku.” Aku menangis keras.
“ owh itu kakak.” Jawabnya santai
“ hah….. kakak?”aku melepas pelukanku.
Lalu Kak Dika memberikan penjelasan bahwa dia tidur disana karena orang tuannya menjadi Cleaning servis ditempatnya kuliah. Kak Dika gak mau cerita karena dia takut aku menjauhinya. Padahal pemikirannya itu salah. Akhirnya sekarang kak Dika sudah mengubah sikapnya seperti dulu, tidak gengsian.
^Tamat^

Wednesday, 13 February 2019


Cinta Seorang Sahabat

Oleh : Putu Dea Pratiwi

            Saat matahari mulai tenggelam, Divana Dewi  seorang gadis SMK duduk di bangku taman dengan perasaan gelisah. “Kenapa lama banget ya Dirga datang?” Dirga Rahayu adalah sahabatnya dari kecil. Divana sudah lama menyukai Dirga, tapi karena mereka sahabat Divana tidak berani mengungkapkannya.
          Tiba – tiba dari belakang mata Divana tertutup oleh telapak tangan yang dingin. “ aduh siapa nih?” Divana merasa khawatir kalau itu adalah penculik. Divana langsung menyiku perut orang tersebut. Ternyata itu adalah Dirga.” Aduh maaf ya Dirga, habisnya aku gak tahu itu kamu aku kira penculik.” Divana merasa bersalah.  “ tapi jangan nonjok juga kan sakit.” Dirga meringis kesakitan.
“Iya – iya maaf kan gak tahu.” Divana menutup kedua telapak tangannya di depan mukanya.” Dimaafin kan?”
          Tanpa berpikir Panjang Dirga langsung menganggukkan kepalanya dan tersenyum. “ yee, makasih Dirga sayang.” Divana langsung menutup mulutnya.” Sekali lagi apa kamu bilang?” kepo Dirga. “ hmm gak jadi deh, udah yuk kita balik keburu malam nih.” Mereka pun pergi berdua dengan perasaan yang berbeda.
          Keesokan harinya disekolah Dirga dan Divana tidak berani saling bicara, karena kejadian semalam. “ Div lo kenapa? Kok beda ke Dirga kayak musuhan?” tanya Suci sahabat Divana.
“ Gak kok biasa aja, mungkin dia lagi gak mood.”elak Divana. “Sebenarnya gue keceplosan ngomong saat ketemuan kemarin.”
“ Emangnya lo ngomong apa ke Dirga?” Suci kepo.
“Ada deh..” jawab Divana.
          Bel pun berbunyi tanda istirahat.” Div lo gak ke kantin??” tanya Suci.
“ Gak gue udah sarapan tadi di rumah.” Divana mengelak, karena dia tahu pasti akan bertemu Dirga di kantin. “beneran lo gak mau pergi kekantin nanti nyesel gak ketemu sama Dirga.” Suci menggoda Divana.
/         Setelah pulang sekolah Divana menunggu jemputan dari ojek langganannya. “ Div pulang bareng yuk?”Tawar Dirga.
“ beneran lo mau ngajak gue pulang?” Tanya Divana.
“ Iya lah, emangnya gue kelihatan bercanda?” Dirga menjawab.
“ya udah deh gue bareng lo aja. Makasih udah ngajak gue pulang.”
          Mereka pulang dengan menaiki mobil silver milik Dirga. Di perjalanan Dirga mengajak ngobrol Divana serius. “ Div lo nanti sibuk gak?” Tanya Dirga.
“Gak, emang kenapa?” Kepo Divana.
“Gue mau buat kejutan untuk seseorang, lo bisa bantu gak?” Rayu Dirga.
“ Emangnya lo mau ngasi kejutan ke siapa?” Divana memastikan.
“Tapi lo mau kan?” mohon Dirga
“Iya gue mau.” Senyum Divana.
“Sebenarnya gue mau nembak….” Seru Dirga.
 Divana menatap Dirga serius dan ingi cepat tahu siapa perempuan yang akan mendapatkan hatinya.
“ Gue mau nembak Suci.”Jawab Dirga.
          Tiba – tiba hati Divana terasa dihantam oleh batu besar. “ Hah, Dirga mau nembak Suci.” Dalam hati Divana.
“Sekarang lo mau nembak dengan cara apa?” Tanya Divana dengan membalikkan badannya melihat jalanan lewat kaca mobil.
“Kalau menurut lo bagusnya gimana?” Dirga tanya balik.
“ Kalau menurut gue, lo tembak dia dengan cara ajak dia makan ke restaurant dan traktir dia coklat, karna dia suka coklat sama kayak gue.” Seru divana.
 Dirga malah senyum-senyum sendiri. “ Oke, terus kapan tanggal yang tepat untuk nembak dia, biar anniversary kita itu selalu dirayakan oleh semua orang?” Tanya Dirga.
“Menurut gue lebih baik tanggal 14 februari mendatang, kan hari valentine jadi semua orang pasti merayakannya terutama remaja sekarang.” Jawab Divana.
“Oke Lo bantu gue yah?” Mohon Dirga.
          Tepat tanggal 14 februari Dirga mengajak Divana ke restaurant. “ Kenapa Dirga ngajak gue ke restaurant, atau jangan – jangan dia mau gue lihat proses jadiannya dengan suci.” Dalam hati Divana.
“ Lo duduk sekarang.” Kata Dirga ke Divana.
“ Ngapain gue yang duduk terus Suci mana?” Heran Divana.
          Kerlap – kerlip sorot lampu restaurant menambah indahnya nuansa di tanggal 14 februari tersebut. Mata Divana ditutup dari belakang oleh seseorang. “Aduh, apa -apaan nih kok mata gue di tutup?” Divana ketakutan.
“ Divana Dewi, lo adalah perempuan yang paling gue sayang seumur hidup gue.” Dirga menyela.
“ Divana LO MAU GAK JADI PACAR GUE?”Dirga mengutarakan perasaanya.
“ Hah, lo beneran, bukannya lo mau nembak Suci?” Tanya divana heran.
“ Dia nanya ke lo kemarin itu biar Dirga tahu apa yang lo suka dan cara nembak lo.” Suci menjawab.
“ Suci, cepetan buka nih mat ague udah sakit.” Seru Divana.
          Divana malah nangis terharu dan sebatang coklat di berikan oleh Dirga. “ ini coklat kesukaan lo, gue beli special  buat lo cewek kesayangan gue. Gue tahu lo dari kemarin cemburu dengar gue mau nembak Suci, dan ini sebagai tanda maaf gue ke lo.” Rayu Dirga.
“ Lo belum jawab pertanyaan gue, lo mau gak jadi pasangan hidup gue.” Tanya Dirga.
          Dengan cepat Divana menjawab pertanyaan Dirga.” Aku mau.” Jawab Divana. Divana langsung membuka coklat yang diberi Dirga. Dirga hanya tertawa kecil melihat kelakuan pacarnya seperti itu.



Tuesday, 12 February 2019

Cerita Persahabatan

Cinta seorang sahabat
Oleh : Putu Dea Pratiwi

Malam datang degan membawa dinginnya angin. Cika Prima duduk di depan televisi dengan biskuit coklat ditangannya.  Nikmatnya hidup Cika yang selalu berkecukupan, tapi ia tidak pernah sombong akan hal itu. Ayahnya adalah pengusaha besar yang berada di Daerahnya. Cika memiliki sahabat yang bernama Rina. Rina adalah orang yang gengsi, sifatnya berbanding terbalik dengan Cika.
"Hai Cik lo mau pulang? gue nebeng ya?" rayu Rina.
" Hai Rin, iya nih gue mau pulang takut kemaleman. lo kan nebeng jadi lo yang bawa mobil gue." Cika tersenyum.
Mereka berdua pun pergi kerumah Rina terlebih dahulu,"Kok berhenti Rin?"tanya Cika bingung.
"Rumah gue sudah dekat, gue jalan kaki aja." jawab Rina.
"Ya gak apa-apa kan sekalian gue mampir, biar tahu rumah lo."tambah Cika
"Gak usah, rumah gue masuk gang kecil, nanti mobil lo gak bisa masuk. Lo mau jalan kaki?" Elak Rina.
" Ya udah deh gue balik aja, nanti kalau sempat gue mampir kesini ya?"
Saat Cika memutar mobilnya, hampir Cika menabrak seorang lelaki tua penjual bakso keliling." Duh maaf ya pak saya gak sengaja." Cika terlihat takut.
" ya gak apa-apa neng kan gak sengaja."Jawab tukang bakso.
" Bapak saya antar kerumah sakit ya?"Tawar Cika.
"Gak usah, lagi pula bapak gak apa-apa."
" kalau gitu saya antar kerumah Bapak saja, nanti biar saya yang ganti rugi dagangan bapak." tawar Cika
" ya sudah, terimakasih ya neng."
Cika mengantarkan Bapak tersebut sampai dirumahnya. Sesampainya di sana Cika disambut oleh anak tukang bakso tersebut. " Bapak!" Seru Naru
"Bapak kenapa?" tanya Naru khawatir.
"Nggak, Bapak tadi cuma keserempet mobil neng ini, siapa namanya neng?" Tanya Bapak.
 " Cika Prima pak bisa dipanggil Cika."jawab cika takut.
" Gue Naru anak bapak ini." Naru mengulurkan tangannya.
Setelah kejadian itu Cika sangat sering bermain kerumah Naru. Ada saja alasan Cika agar bisa bertemu dengan Naru. Dibalik kebahagiaan Cika, Rina yang dari dulu menyukai Naru merasa cemburu dengan kedekatan Cika dan Naru. Dari situlah persahabatan keduanya hancur. Dimulai dari Rina yang selalu cuek jika di ajak bicara oleh Cika.
" Rin kamu kenapa? kok cuek gitu sama aku sahabatmu sendiri." tanya Cika.
" Hah apa lo bilang sahabat? bukan! sekarang lo bukan lagi sahabat gue, karna lo telah rebut gaebetan gue. NARU." Rina menjawab sebal.
" lo suka sama Naru, kenapa gak bilang, kan gue bisa comblangin lo sama dia." Seru Cika
" Beneran lo mau comblangin gue sama Naru??" Kepo Rina.
"Iya lah, karna gue juga tahu kalau Naru itu sukanya sama lo." Tawa Cika.
"hah Naru suka sama gue!" Seru Rina gak percaya.
" Iya kemarin dia curhat sama gue, kalau lo itu orangnya lucu,walau kadang lo gengsi nunjukin jati diri lo ke gue, tapi gue gak memandang lo itu kaya atau miskin sama saja." Jawab  Cika.
  " Cika lo memang bener sahabat gue paling baik. gue gak nyesel jadi sahabat lo" Tawa Rina.
  Kini Rina sudah menikah dengan Naru, dan Cika masih mencari pasangan hidup yang tepat.

 Gebetan Kakak Kelas
Oleh : Putu Dea Pratiwi


                Sekilas udara masuk lewat jendela rumah Dina Sintya. Dina yang sedang tertidur bangun dengan kaget. " Hah. Sudah jam 7". Hari ini adalah hari pertamanya ujian di sekolah SMP di Bali. Dina langsung pergi mengambil handuk dan mandi.

                "Dina sini, kita, makan bareng ayah. Sekarang ayahmu akan kerja di luar kota". Dina langsung menuruni tangga dengan pakaian yang masih berantakan. "Ma Dina sarapannya disekolah aja sudah terlambat". Dengan menyalami tangan mama dan papanya tanpa basa basi. Dina langsung mengendarai motornya dengan kecepatan yang extra.

                Sesampainya disekolah Dina masih memiliki waktu 10 menit untuk tiba di gerbang sekolah. "Tunggu pak... jangan ditutup". Teriak Dina. "Kamu ini sudah sering terlambat, pakaian berantakan pula". Marah Pak satpam. "Ya maaf pak saya telat bangun, alarm saya mati". Mohon Dina. "Sudah masuk, nanti kamu gak jadi ujian".

                Pulang sekolah Dina mangajak sahabatnya Arsiyani." Din lo mau mendaftar sekolah di mana?" tanya Arsi. Dina menaruh tangannya didepan dada. " Gue juga gak tahu,menurut lo dimana ya enaknya?" Pembicaraan mereka terpotong karena ada suara benturan yang keras.

Dina : Arsi gue udah nemuin sekolah yang tepat untuk kita.

Arsi  : Beneran, dimana??

Dina : Di SMK..... Tapi itu sekolah berasrama dan kita tinggal jauh dari orang tua.

Arsi  : Gak apa-apa yang penting itu nyaman untuk kita.

                Percakapan lewat telepon itu berakhir.

Setelah ujian mereka berakhir mereka merayakannya dengan party di rumah Arsi." Din lo cantik banget malam ini". Arsi menggoda Dina. " Ah lo bisa aja". Dina malu.

                Selang beberapa bulan akhirnya pengumuman siswa baru di SMK tersebut.

"Arsi gue dapat di sekolah SMK itu". Dina dengan bahagia mencubit pipi Arsi. "Aduh, sakit tahu, tapi gue gak dapat. Gimana dong??" Arsi terlihat sedih.

                "Gak apa-apa kan lo bisa cari sekolah lain yang lebih bagu". Bujuk Dina. "Tapi gue mau sekolah bareng lo". Arsi menjawab. "Kalau lo sekolah berasrama, terus pacar lo ditinggal gitu?"Dina mencoba membujuk Arsi. "Bener juga sih".

                Dengan perasaan yang sedih Arsi pulang diantar pacarnya. Dalam hati Arsi berpikir bahwa apa yang dibilang oleh Dina itu benar.

                Selang beberapa bulan Dina sudah resmi menjadi siswi baru di sekolah SMK tersebut. Dina mengawali sekolahnya dengan MPLS ( Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Hari pertama Dina MPLS sangat menyenangkan tapi setelah lama membuat Dina bosan.

                Saat itu Dina di pertemukan dengan kakak kelas yang menurutnya ganteng, kakak itu memiliki nama lengkap Andika Dewa. Kan Dewa sangat ramah dan pendiam menurutnya. "kak adik takut di interview, takut salah jawab". Keluh Dina. " Gak apa-apa, semangat ya dik". sambil memegang pundak Dina. Hati Dina berdegug kencang sekaligus bahagia.

                Setelah MPLS, Dina mulai belajar seperti biasanya. Libur Hari Raya Bali yaitu Galungan dan Kuningan sekaligus tahun baru Dina mendapat libur selama 2 minggu di rumahnya.

                Disaat hari raya Galungan Dina mengirimkan pesan kepada kak Dewa

Dina: Kak ini Dina, selamat hari raya galungan dan kuningan.

                Tapi tak ada jawaban dari Dewa. " Mungkin kak Dewa lagi sibuk". pikir Dina

                 Tepat di malam tahun baru sahabatnya mangirimkan pesan singkat.

Arsi : Selamat tahun baru Dina.

Dina : Untuk lo juga:)

                Tiba - tiba Dina teringat sesuatu." oh ya kak Dewa". Dengan terburu - buru Dina mengambil teleponnya.

Dina : Happy New Year kak ini Dina

Dewa : Kamu juga dik.

Dina : Makasi kak

Dewa : Lagi ngapain dik??

Dina : Lagi liat kembang api di langit kak

Dewa : oh

Dina :Kak ini kan malam tahun baru. kakak liat kelangit bayangkan harapan kakak. Semoga           tercapai kak.

Dewa : Terimakasih dik

Dina : Ok kak adik mau tidur. Good night kak.

Dewa : Night to dik mimpi indah

               

Dengan perasaan bahagia Dina tidur dengan nyaman. Keesokan harinya pukul 07.00 pagi Dina dengan cepat mengambil teleponnya dan mengirimkan pesan lagi pada kak Dewa.

Dina : Pagi kak

Kak Dewa dengan cepat membalas.

Dewa : Pagi dik

Dengan perasaan berbunga Dina membalasnya

Dina : Gpt Kak?

Dewa : Lagi diam dik

                Dina tidak membalas pesan tersebut karena Dewa sedang dekat dengan seorang perempuan yaitu kak Diva.

Tapi karena Dina telah jatuh cinta, Dina memberanikan diri untuk bertanya pada kak Dewa.

Dina : Kakak gak ada yang marah chatan dengan adik??

Dewa:  Gak kok dik, santai aja.

Dina : terus kak Diva ??

Dewa : Kakak sudah selesai sama dia dik.

Dina : Oh.

                Perasaan Dina seketika berubah menjadi bahagia dan senang. Dina berteriak dengan meninjukan tangannya ke udara. “ yes” teriak Dina.

                1 minggu sudah berlalu Dina menjalani hari – harinya dengan saling mengirimkan pesan dengan Dewa. Dina sempat berpikir tidak mungkin kak Dewa suka dengannya.

Dewa : Dik kamu jangan malu tuk nyapa kakak kelas, karena banyak temen kakak yang bilang kalau      kamu itu ragu nyapa mereka.

Dina : Emangnya adik kurang saat nyapa? Adik kira setiap ketemu kakak kelas pasti adik seyum.

Dina : oh ya kakak kira adik siapa?

Dewa : maksudnya dik??

Dina : kakak kira adik Dina Sintya atau Dina Risma?

Dewa : Kamu kan Dina Risma

Dina : bukan kak ini Dina Sintya.

Dewa : oh maaf ya dik

Dina : ya kak gak apa-apa

                Hari semakin berlalu. Dina terus mengirimkan pesan kepada Dewa tapi tak ada jawaban sama sekali. Sampai – sampai Dina mencari media sosial Dewa. Ternyata alasan Dewa Handponnya mati. Hingga esok hari adalah dimana Dina akan kembali kesekolah. Dina diantar ayahnya yang baru datang dari luar kota.

                Hari semakin berlalu, Dina menjalani hari dengan harapan untuk cepat di bagikan handpone. Karena pada hari senin sampai jumat Dina tidak boleh membawa handpone. Dina hanya boleh membawa handpone pada hari sabtu dan minggu.Setiaphari sabtu dan minggu Dina selalu mengiarimkan pesan kepada Dewa.

                Tapi pada saat itu Dewa berubah drastis, Dewa jadi lebih dingin ke Dina hingga sekarang pun sama seperti itu. Tapi Dina sudah move on dari Dewa mungkin dia bukan jodohnya.